Saturday, March 19, 2011

CULTURAL IMPERIALISM THEORY


TEORI IMPERIALISME BUDAYA
            Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herb Schiller pada tahun 1973. Tulisan pertama Schiller yang dijadikan dasar bagi munculnya teori ini adalah Communication and Cultural Domination. Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Ini berarti pula, media massa negara Barat juga mendominasi media massa di dunia ketiga. Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga. Media Barat sangat mengesankan bagi media di dunia ketiga. Sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Dalam perspektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari negara maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga.
            Kebudayaan Barat memproduksi hampir semua mayoritas media massa di dunia ini, seperti film, berita, komik, foto dan lain-lain. Mengapa mereka bisa mendominasi seperti itu? Pertama, mereka mempunyai uang. Dengan uang mereka akan bisa berbuat apa saja untuk memproduksi berbagai ragam sajian yang dibutuhkan media massa. Bahkan media Barat sudah dikembangkan secara kapitalis. Dengan kata lain, media massa Barat sudah dikembangkan menjadi industri yang juga mementingkan laba.
            Kedua, mereka mempunyai teknologi. Dengan teknologi modern yang mereka punyai memungkinkan sajian media massa diproduksi secara lebih baik, meyakinkan dan “seolah nyata”. Jika Anda pernah menyaksikan film Titanic ada kesan kapal Titanic tersebut benar-benar ada, padahal itu semua tidak ada. Bahkan ketika kapal tersebut akhirnya menabrak gunung es dan tenggelam, seolah para penumpang kapal itu seperti berenang di laut lepas, padahal semua itu semu belaka. Semua sudah bisa dikerjakan dengan teknologi komputer yang seolah kejadian nyata. Semua itu bisa diwujudkan karena negara Barat mempunyai teknologi modern.
            Negara dunia ketiga tertarik untuk membeli produk Barat tersebut. Sebab, membeli produk itu jauh lebih murah jika dibanding dengan membuatnya sendiri. Berapa banyak media massa Indonesia yang setiap harinya mengakses dari media massa Barat atau kalau berita dari kantor berita Barat. Setiap hari koran-koran di Indonesia seolah berlomba-lomba untuk menampilkan tulisan dari kantor berita asing. Bahkan, foto demonstrasi di Jakarta yang seharusnya bisa difoto oleh wartawan Indonesia sendiri justru berasal dari kantor berita AFP (Perancis). Sesuatu yang sulit diterima, tetapi nyata terjadi.
            Dampak selanjutnya, orang-orang di negara dunia ketiga yang melihat media massa di negaranya akan menikmati sajian-sajian yang berasal dari gaya hidup, kepercayaan dan pemikiran. Kalau kita menonton film Independence Day saat itu kita sedang belajar tentang Bangsa Amerika dalam menghadapi musuh atau perjuangan rakyat Amerika dalam mencapai kemerdekaan. Berbagai gaya hidup masyarakatnya, kepercayaan dan pemikiran orang Amerika ada dalam film itu. Mengapa bangsa di dunia ketiga ingin menerapkan demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat? Semua itu dipengaruhi oleh sajian media massa Barat yang masuk ke dunia ketiga.
            Selanjutnya, negara dunia ketiga tanpa sadar meniru apa yang disajikan media massa yang sudah banyak diisi oleh kebudayaan Barat tersebut. Saat itulah terjadi penghancuran budaya asli negaranya untuk kemudian mengganti dan disesuaikan dengan budaya Barat. Kejadian ini bisa dikatakan terjadinya imperialisme budaya Barat. Imperialisme itu dilakukan oleh media massa Barat yang telah mendominasi media massa dunia ketiga.[1]
            Salah satu yang mendasari munculnya teori ini adalah bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berpikir, apa yang dirasakan dan bagaimana mereka hidup. Umumnya, mereka cenderung mereaksi apa saja yang dilihatnya dari televisi. Akibatnya, individu-individu itu lebih senang meniru apa yang disajikan televisi. Mengapa? Karena televisi menyajikan hal baru yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan.
            Teori ini juga menerangkan bahwa ada satu kebenaran yang diyakininya. Sepanjang negara dunia ketiga terus menerus menyiarkan atau mengisi media massanya berasal dari negara Barat, orang-orang dunia ketika akan selalu percaya apa yang seharusnya mereka kerjakan, pikir dan rasakan. Perilaku ini sama persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kebudayaan Barat.
            Teori imperislisme budaya ini juga tak lepas dari kritikan. Teori ini terlalu memandang sebelah mata kekuatan audience di dalam menerima terpaan media massa dan menginterpretasikan pesan-pesannya. Ini artinya, teori ini menganggap bahwa budaya yang berbeda (yang tentunya lebih maju) akan selalu membawa pengaruh peniruan pada orang-orang yang berbeda budaya. Tetepi yang jelas, terpaan yang terus-menerus oleh suatu budaya yang berbeda akan membawa pengaruh perubahan, meskipun sedikit.

HIPOTESA - MENGAPA BUDAYA ASING DAPAT MASUK?
            Kebudayaan asli bangsa kita sudah tidak nampak. Padahal bangsa kita adalah bangsa yang terkenal mempunyai berjuta ragam bahasa, adat suku dan sebagainya. Namun dalam hal ini, pernahkah anda berpikir -sebagai individu yang juga sebagai “korban” globalisasi- bagaimana hal itu bisa terjadi? Disini ada beberapa dugaan tentang hal ini yang rujukannya sebagian besar kami kutip dari buku krya Denis Mc Quail[2].
            Pertama, alasan dimasukinya budaya asing dikarenakan, massa dinilai sebagai sumber atau agen perubahan sosial yang progresif. Karena memang pada dasarnya manusia itu terlalu mudah untuk terpengaruh untuk melakukan sebuah hal yang baru.
            Kedua, unsur-unsur budaya rakyat atau yang benar-benar dari rakyat serta sudah ada sebelumnya perlahan-lahan punah. Budaya asing akhirnya masuk tanpa disadari. Orang-orang menggunakan corak, tema, dan bahan-bahan tradisional dianggap terlalu sederhana dan dianggap sebagai kehidupan kelas bawah. Disamping itu upaya pemerintah untuk melestarikannya sebagai budaya yang hidup, biasanya dilakukan agak terlambat.
            Ketiga, media menyerap beberapa unsur budaya asing lewat acaranya, lalu menyesuaikannya dengan keadaan kehidupan masyarakat.
            Keempat, budaya rakyat banyak mengalami pengikisan karena khalayak media kurang meminatinya, dan jenis keterampilan yang mendukung budaya tersebut pun kurang diperlukan dibanding jenis keterampilan yang mendukung budaya tinggi.

GLOBALISASI MEDIA
            Komunikasi massa global merupakan hal yang nyata untuk sekarang. Dapat  dikatakan bahwa komunikasi massa yang bersifat global merupakan fakta tak terbantahkan untuk melihat media massa sekarang ini. Tentunya hal tersebut tidak bisa dipisahkan dengan fenomena atau gejala globalisasi.
            Media massa sekarang bisa dilihat sebagai jejaring sosial yang menyebar dan berkembang secara horizontal maupun vertikal pada sistem sosial masyarakat. Pada bagian ini McQuail merinci fakta komunikasi massa global dalam beberapa hal pokok. MEDIA GLOBAL: Faktor Pemicu dan Wacana yang Berkembang. Globalisasi media massa semakin tak terelakkan ketika teknologi komunikasi mendorong industri media. Teknologi transmisi media semakin kuat. Teknologi transmisi media memaksa para pelaku bisnis media membentuk media massa sebagai perusahaan komersial. Pada titik tertentu, globalisasi media mengikuti perdagangan dan hubungan internasional. Hal ini terjadi karena sifat dan cakupan media modern memungkinkan untuk melintasi batas-batas tradisional ruang dan waktu.
            Dengan demikian sistem media pun menyebar serba lintas secara teritorial maupun kategorial di seluruh dunia. Sistem media global secara simultan juga memberikan warna dan selera yang sama dalam proses komunikasi global dan pada umumnya sistem program acara berita dan hiburan merupakan andalan dalam proses tersebut. Kehadiran sistem media global memungkinkan khalayak bisa memilih program acara lintas benua,
lintas sosial, lintas ekonomi dan lintas kebudayaan. Kecenderungan inilah yang memacu pada aspek homogenisasi dan westernisasi program media, karena kebanyakan program media baratlah yang menguasai pangsa khalayak global. Fase ini juga mereduksi kedaulatan komunikasi nasional dan lebih mengembangkan arus informasi yang bersifat global.
            Ketiadaseimbangan arus isi media semakin menghapus otonomi budaya dan mengendorkan makna pembangunan. Ketidakseimbangan hubungan dalam aliran berita meningkatkan kekuatan global dan menghalangi faktor-faktor yang diperlukan untuk meningkatkan identitas nasional. Media global semakin menguatkan homogenisasi dan sinkronisasi dengan mencabut hubungan antara media dengan pengalaman sehari-hari yang bersifat partikular dan lokal.
            Dilihat dalam keseluruhan aspek, dimensi budaya menjadi juga faktor krusial dalam media. Tesis ketergantungan total terhadap keseluruhan isi dan teknologi media tidak selama benar. Pada derajad tertentu terdapat seleksi dan pemilahan yang jelas di mana sebuah negara bisa memasukkan dimensi internasionalisasi media dan dimensi nasionalisasi media massa. Gabungan antara motif ekonomi dan kebudayaan sering mengaburkan masalah transnasionalisasi media. Tingkat persaingan dan kemampuan ekonomi serta kemauan untuk survive dalam konteks kebudayaan dan identitas lokal menjadi konsideran-konsideran utama dalam proses globalisasi media.
            Wacana ini juga menyatakan beberapa efek kultur pada era globalisasi. Efek kultur ini semakin didorong dengan keberadaan media global. Isu pertama yang muncul adalah isu identitas budaya. Proses pembentukan identitas budaya dipengaruhi oleh media massa. Fungsi media sebagai media transmisi budaya mendapatkan peran maksimal baik secara lokal, nasional maupun internasional dengan tingkat analisisnya masing-masing. Komodifikasi simbol budaya disebarkan melalui media. Bukan tidak mungkin terjadi pengembangan sikap multikultural. Media juga membentuk deteritorialisasi kebudayaan, evolusi bentuk budaya dan kultur media global itu sendiri.

IMPERIALISME BUDAYA SEBAGAI “IMPERIALISME MEDIA”
            Imperialisme budaya menempatkan media -televisi, radio, jurnalisme, periklanan- diatas segalanya. walaupun media secara analistis terpisah dari segala aspek budaya, namun dapat terlihat dengan jelas bahwa media dan budaya memiliki koneksi yang sangat dekat dengan berbagai aspek lain yang mengkaji tentang kehidupan manusia. Yang dialami orang-orang terhadap pengaruh televisi misalnya, seringkali menimbulkan efek mediasi yang bermakna. Pada dasarnya abstraksi yang terdapat dalam budaya secara keseluruhan memiliki problematic yang tinggi.Namun ada juga timbulnya argument tentang kegunaan media sebenarnya pada masa Imperialisme budayal imperialisme media yang harus kita coba ketahui dari luar
            Imperialisme media adalah cara khusus untuk mempersoalkan tentang imperialisme budaya. Bukan hanya sebuah nama agar kita mempelajari media guna pembangunan negara atau untuk market internasional dalam komunikasi. Tetapi didalamnya melibatkan berbagai isu-isu politik yang bersifat kompleks -termasuk juga komitmen potitik- yang mengarahkan kedalam pengertian dominasi budaya. Dari kesimpulan tentang imperialisme media, maka timbullah beberapa pertanyaan.
            Isu pertama muncul diluar dari wacana tentang imperialisme media dan hubungannya dengan bentuk dominasi yang ada. Para kritikus imperialisme media seringkali mengkhawatirkan struktur dan aspek-aspek institusional dari media global. Mereka memberi kritik berdasarkan bentuk-bentuk dominasi politik dan ekonomi. Asumsi yang timbul adalah bahwa pengaruh budaya dari luar seperti acara televisi, periklanan, komik dan lainnya terbukti akan menimbulkan efek pada budaya. Wacana tentang imperialisme media melengkapi kita dengan konteks yang dianggap sebagai masalah general sebenarnya dalam dominasi budaya.
            Isu lainnya adalah tentang imperialisme budaya sebagai pusat dari media. Di satu pihak, jelas terlihat media massa berkembang secara cepat dan konstan, melaporkan dan menyuguhkan baik kehidupan pribadi maupun kehidupan publik di barat. Jadi selama ini dapat dilihat bahwa konsumsi media massa sebagai proses penciptaan budaya yang berkaitan dengan kuasa dan mengandung hegemoni Barat. Penyampaian pesan yang dianut media dalam ilmu komunikasi kini dipandang sebagai proses yang dinamis dan transaksional. Artinya, khalayak juga aktif dalam proses tersebut. Publik tidak tinggal diam dan menerima pesan-pesan media massa begitu saja, melainkan paling tidak memilih pesan yang layak diterima. Sebaliknya, media juga sangat tergantung pada nilai-nilai kultural masyarakat pada umumnya. Seorang wartawan mengamati realitas dengan maksud membuat berita yang relevan dan informatif buat pembacanya. Yang kemudian menjadi ketergantungan relatif khalayak terhadap media sebagai sumber informasi (dibandingkan dengan sumber informasi lainnya).
            Dengan kata lain semakin tinggi ketergantungan masyarakat terhadap media bagi perolehan informasi dan semakin tinggi ketidakstabilan masyarakat, maka semakin tinggi pula kekuasaan yang dimiliki media dari perannya tersebut.[3]

TANTANGAN UNTUK MEDIA BANGSA INDONESIA
            Dalam Cultural impererialism Theory, teknologi komunikasi mempunyai dampak yang sangat besar untuk mengantisipasi agar kita tidak mengalami “penjajahan” dunia barat.
            Perkembangan dunia televisi swasta di Indonesia cukup menggembirakan, namun memiliki berbagai implikasi, baik positif maupun negatif. Persaingan bisnis dunia TV swasta pasti dimenangkan oleh pemodal kuat yang mempunyai hubungan dekat dengan kekuasaan. Para produsen barang dan jasa menjadi ajang rebutan stasiun TV. Munculnya beraneka ragam iklan di TV swasta dengan tujuan mencari keuntungan finansial sebanyak-banyaknya, mengakibatkan kurangnya kewaspadaan menyeleksi materi iklan yang akan ditayangkan.
            Kebijaksanaan pemerintah yeng memperbolehkan setiap individu memakai antena parabola di Indonesia merupakan “kejutan” bagi masyarakat. Karena dengan antena parabola atau TV kabel jenis tertentu, masyarakat Indonesia sudah dapat menyaksikan berbagai siaran TV asing. Globalisasi sudah semakin menyebar di berbagai belahan dunia. Menghindari globalisasi justru akan ketinggalan zaman. Namun demikian, seleksi terhadap tayangan asing tetap perlu dilakukan. Karena tidak semua tayangan asing sesuai dengan budaya Indonesia.Dengan cara ini konflik-konflik kebudayaan dapat dicegah agar tidak merasuk ke dalam pola hidup masyarakat.
            Meningkatkan pendidikan masyarakat adalah salah satu cara yang bisa mencegah masuknya budaya barat ke Indonesia yang datang lewat tayangan televisi asing. Dengan pendidikan yang lebih baik, anggota masyarakat dapat memilih tayangan acara televisi asing secara bijaksana.[4]
            Menu program acara TV lokal yang disiarkan dapat menjadi filter untuk menghadapi TV asing. Melihat kenyataannya, menu acara lokal ini juga sulit membendung program tayangan TV asing yang masuk.
            Diperlukan pengkajian mendalam dan serius untuk menhadapi tayangan asing. Globalisasi memang perlu, tetapi lebih perlu lagi kesiapan SDM kita untuk menghadapi globalisasi.

KESIMPULAN
            Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa imperialisme dan globalisasi sesungguhnya dua fenomena dengan pesan yang sama, ‘perluasan daerah kekuasaan modernisasi’. Dampak aliran ini  dalam suatu sisi telah mempengaruhi kehidupan masyarakat, dimana dominasi barat dalam segala bidang menjadi suatu bentuk penjajahan baru terutama dalam bidang budaya dan ekonomi.
            Kita memang tidak sedang dihadapkan pada persoalan simpel apakah mau memilih menjadi tradisional atau modern. Sebab produk modernitas de facto, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup keseharian kita. Fastfood, Televisi, mobil, pesawat telepon, mesin cuci, parabola, komputer hingga mainan anak-anak, telah menjadi kebutuhan masyarakat yang tak terelakkan. Inilah yang menjadikan masalah bertambah rumit. Di satu sisi, masyarakat tidak bisa mengelak dari serbuan modernitas, tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa melepaskan diri dari pelukan tradisi. Disinilah keterbelahan terjadi. Dan sepanjang tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk menuntaskan dan mencarikan format baru yang merupakan sintesa tuntas dari keduanya, tidak bakal ada sebuah bangunan masyarakat kokoh yang bisa menjadi landasan bagi pembangunan bersprespektif jangka panjang. Pencarian format ini sungguh sebuah proyek sosial yang akan amat menentukan perjalanan bangsa Indonesia ke depan.
            Media masa sebagai bagian dari suatu sistem, sesungguhnya merupakan sarana yang memungkinkan institusi-institusi lain berjalan.
            Institusi sosial, dalam hal ini, pada dasarnya dapat dikelompokan pada tiga (3) entitas besar: politik, ekonomi, budaya. Institusi politik mengambil fungsi dalam proses pengambilan keputusan yang ditandai dengan keikutsertaan dalam kekuasaan politik. Institusi ekonomi mengambil fungsi dalam meningkatkan kesejahteraan material, sementara institusi sosial budaya berfungsi meningkatkan kehidupan masyarakat untuk lebih bermakna (immaterial), sedangkan media massa membantu memberikan ruang yang memungkinkan institusi politik, ekonomi, dan budaya berjalan. Untuk itu media massa, karena terkait dengan informasi sebagai poros aktifitasnya, dapat menjalankan fungsi politik, ekonomi ataupun sosial budaya. Selain itu pemerintah sendiri juga harus turut campur dalam hal ini. Karena sudah terbukti akibat melupakan budaya asli, budaya kita di klaim oleh negara asing. Tapi mengapa pemerintah baru bereaksi setelah hal itu ramai diberitakan di media?. Kami yakin anda dapat menjawabnya sendiri.


[1] nurudin.staff.umm.ac.id/category/teori-komunikasi-massa/
[2] McQuail, Denis. 1991. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar (Mass Communication Theory). Jakarta: Penerbit Erlangga. hlm 37
[3] petrusandung.wordpress.com/category/komunikasi-antar-budaya/
[4] Kuswandi, Wawan.2008. Komunikasi Massa – Analisis Interaktif Budaya Massa. Jakarta: PT Rineka Cipta. hlm. 124.

No comments:

Post a Comment