Saturday, March 19, 2011

MANAJEMEN BERPIKIR DOSEN ATAS KEBERHASILAN MAHASISWA


ABSTRAK
Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang selalu menjadi topik utama dalam bidang pendidikan. Asumsi tersebut berkembang dengan pertimbangan bahwa prestasi belajar merupakan indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh mahasiswa. Prestasi merupakan suatu penilaian dari hasil pendidikan, umumnya dirumuskan pada suatu evaluasi atau biasanya yang disebut sebagai rapor. Maksud penilaian hasil-hasil pendidikan itu ialah untuk mengetahui (dengan alasan yang bermacam-macam) pada waktu dilakukan penilaian itu sudah sejauh manakah kemajuan anak tersebut. Hasil dari tindakan mengadakan penilaian itu lalu dinyatakan dalam suatu pendekatan yang perumusannya bermacam-macam. Ada yang menggolongkan dengan mempergunakan lambang-lambang A, B, C, D, E dan ada yang mempergunakan skala sampai 11 tingkat yaitu mulai dari 0 sampai 10, dan ada yang memakai penilaian dari 0 sampai 100. Di Indonesia umumnya mempergunakan angkadari 0 sampai 10, tetapi akhir-akhir ini telah dipergunakan lambang A, B, C, D, dan E itu (Suryabrata, 2002).
Berbagai penilaian dalam proses belajar tersebut diberikan melalui kuis, tugas, UTS, dan UAS dari materi pelajaran yang diberikan, hasil mahasiswa tersebut dinamakan indeks prestasi. Indeks prestasi merupakan rumusan terakhir yang diberikan oleh dosen mengenai kemajuan atau hasil belajar. Dengan belajar setiap individu akan memperoleh pemahaman ilmu pengetahuan, yang diharapkan dapat membentuk kecakapan, keterampilan, sifat, pengertian, harga diri, minat, watak dan penyesuaian diri bagi setiap individu tersebut. Secara tidak langsung prestasi yang dicapai dapat menjadi prediksi bagi keberhasilan individu dimasa depan sehingga terbentuklah sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Bloom (dalam Azwar, 1996) prestasi belajar adalah mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Suripto (1996) menyatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil dari proses kegiatan belajar dalam suatu periode tertentu yang termuat dalam laporan nilai yang diperoleh melalui pemberian tugastugas maupun tes. Dalam hal ini, prestasi belajar dapat mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Nilai-nilai prestasi belajar yang tercantum dalam laporan tersebut dapat memberikan gambaran terhadap kemampuan yang bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hasil belajar yang optimal banyak dipengaruhi oleh berbagai komponen belajar mengajar, diantaranya adalah hubungan antara dosen dan mahasiswa (Sardiman, 2001). Hubungan dosen dengan mahasiswa didalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mahasiswa ingin belajar dan dosen nyaman dalam mengajar. Menurut Muhibbin (2003) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu aspek fisiologi (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologi (yang bersifat rohaniah), sedangkan faktor eksternal adalah lingkungan dan pertemanan. Hal ini dapat menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar seorang siswa. Mengamati masalah komunikasi yang terjadi di fakultas Psikologi, terlihat masih adanya dosen dan mahasiswa yang belum dapat menciptakan komunikasi yang efektif. Dalam hal ini komunikasi yang efektif seperti adanya kenyamanan ketika berbicara antara dosen dengan mahasiswa. Komunikasi yang tidak efektif antara dosen dan mahasiswa tentunya akan berpengaruh pada proses belajar mengajar dan prestasi belajar mahasiswa. Pengaruh ini dapat dilihat dari adanya perbedaan prestasi belajar mahasiswa antara mahasiswa yang aktif dengan mahasiswa yang pasif dalam membuka hubungan dengan dosennya. Ada dua tipe dalam proses belajar mengajar yaitu tipe terbuka dan tertutup.
Dosen dengan tipe terbuka adalah dosen yang melakukan proses belajar mengajar sesuai dengan silabus pengajaran, selain itu memberikan informasi tentang penelitian yang sedang berkembang. Sedangkan dosen dengan tipe tertutup adalah dosen yang hanya melakukan proses belajar mengajar sesuai dengan silabus pengajaran. Dosen yang terbuka dengan dosen yang tertutup terhadap mahasiswanya, juga memberikan pengaruh yang berbeda terhadap prestasi belajar mahasiswa.
Berbicara masalah proses belajar mengajar di perguruan tinggi, hubungan antara dosen dengan mahasiswa dalam berkomunikasi sangat perlu. Apabila hubungan antara dosen dengan mahasiswa tidak harmonis, dapat menciptakan komunikasi yang tidak baik. Komunikasi turut menentukan untuk membuat manusia menjadi tahu dan mendapatkan pengetahuan sebagai sumber ilmu. Pengetahuan pada mahasiswa dapat dicerminkan oleh prestasi akademik dengan nilai indeks prestasi yang didapat. Prestasi belajar akademik dapat optimal jika dibangun dengan komunikasi yang baik. Menciptakan komunikasi yang baik diperlukan kemampuan komunikasi seperti menulis, membaca, berbicara, mendengarkan, dan berpikir (kemampuan bernalar).
Menciptakan hubungan yang harmonis, antara dosen dan mahasiswa tidak hanya dilakukan di depan kelas, tetapi juga dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar yang lainnya seperti, pertemuan diluar jam perkuliahan yang bersifat komunikasi dua arah. Komunikasi tersebut dapat menyebabkan hubungan timbal balik antara dosen dan mahasiswa, seperti dosen dapat menanyakan keadaan mahasiswa dan mahasiswa juga dapat mengajukan berbagai persoalan dan hambatan yang dihadapinya. Menurut Belson dan Steiner (dalam Mulyana, 2001) komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi. Havland (dalam Mulyana, 2001) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambing lambing verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (Communicate). Menurut Everett (dalam Mulyana, 2001) komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dan sumber kepada suatu penerima atau lebih dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. Menurut Mulyana (2001) komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Sedangkan Everett (dalam Mulyana, 2001) mengemukakan komunikasi antarpribadi adalah merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. De Vito (1995) mengemukakan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang mengambil tempat antara dua orang yang memiliki hubungan yang tidak bisa dipungkiri.
Komunikasi interpersonal dapat terjadi antara anak dengan ayahnya, seorang pegawai dengan pegawai yang lain, dua saudara, seorang dosen dengan seorang mahasiswa, dua kekasih, dua teman dan lain sebagainya. Berdasarkan uraian di atas, mendorong penulis untuk menguji apakah ada hubungan komunikasi interpersonal antara mahasiswa dan dosen dengan prestasi akademik mahasiswa.

PRESTASI AKADEMIK
Pengertian prestasi akademik menurut Bloom (dalam Azwar, 1996) adalah mengungkap keberhasilan seseorang dalam belajar. Suryabrata (1993) menyatakan bahwa prestasi akademik adalah seluruh hasil yang telah dicapai (achievement) yang diperoleh melalui proses belajar akademik (academic achievement) maka menurut penulis istilah yang dapat disimpulkan bahwa seluruh hasil yang telah dicapai (achievement) atau diperoleh melalui proses belajar akademik (academic achievement) yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk mengetahui sejauh mana para siswa menguasai bahan pelajaran yang diajarkan dan dipelajari. Dari beberapa uraian di atas dapat di simpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil dari kegiatan belajar untuk mengetahui sejauh mana seseorang menguasai bahan pelajaran yang diajarkan serta mengungkapkan keberhasilan yang dicapai oleh orang tersebut.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRESTASI AKADEMIK
Wahyuni (dalam Gunarsa dan Gunarsa, 2000) menjelaskan bahwa prestasi akademik dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Mereka mengutarakan hal-hal yang termasuk kedalam faktor internal adalah sebagaimana yang dipaparkan sebagai berikut :
  1. Kemampuan intelektual atau kecerdasan (intelegensi)
  2. Minat
  3. Bakat khusus
  4. Motivasi untuk berprestasi
  5. Sikap
  6. Kondisi fisik dan mental
  7. Harga diri akademik
  8. Kemandirian
Kemudian dikemukakan pula hal-hal yang termasuk kedalam faktor eksternal, yaitu sebagaai berikut:
  1. Lingkungan Sekolah/Kampus.
  2. Lingkungan Keluarga.
  3. Faktor Situasional.
Menurut Rosenshine (dalam Gage & Berliner, 1991) & Winkel, 1996 masih terdapat faktor yang tidak kalah penting dalam menentukan prestasi belajara peserta didik, yaitu:
  1. Keterampilan guru/dosen dalam mengajar.
  2. Semangat guru/dosen dalam mengajar.

CARA MENGATUR WAKTU DALAM PERKULIAHAN
Kita selalu sibuk antara pekerjaan pokok dengan pekerjaan sampingan (bermain), pekerjaan sampingan sering kita dahulukan. Ini cara membagi waktu dalam keseharian.
1. Jadikan waktu belajar di kelas adalah waktu terbaik untuk belajar
a. Siapkan materi sebelum pelajaran dimulai. Kalau hanya punya waktu sedikit buat membaca seluruh bahan materi, banyaklah bertanya. Ulang sekilas materi terakhir supaya nggak banyak bengong waktu guru menerangkan materi baru.
b. Dengarkan dengan serius apa yang diterangkan guru dan cobalah mengulang kembali materi yang baru didapat versi bahasamu sendiri. Resep ini mujarab buat mencegah sistem belajar kebut semalam karena materinya bakal lama tersimpan di otak kita.
2. Buat daftar harian.
a. Tulis secara singkat 5 tugas yang harus dikerjakan, baik urusan sekolah atau pribadi,
berurut mulai dari yang terpenting.
b. Buat juga cita-cita kecil yang bisa dikerjakan hari ini, misal membaca 5 halaman pelajaran Biologi.
3. Rencanakan jadwal mingguan.
a. Buat agenda mingguan yang berisi jadwal pelajaran, kegiatan ekstrakurikuler atau les tambahan, tugas rumah, tidur dan makan. Tulis semuanya supaya terlihat urutan waktunya. Jangan lupa sisakan baris kosong buat kegiatan yang mendadak muncul kemudian hari.
b. Usahakan buat waktu belajar selama dua jam per satu jam pelajaran di sekolah.
4. Gunakan waktu siangmu sebaik mungkin.
a. Di sekolah kamu bisa membaca terlebih dulu materi pelajaran sebelum guru masuk kelas. Begitu juga sesudah pelajaran selesai, buatlah ringkasan kecil tentang materi baru. Supaya mudah diingat tulis materi tersebut dalam kartu-kartu kecil, atau tempat lain yang mudah dibaca kembali.
b. Atur waktu belajar sebanyak mungkin ketika hari masih terang. Usahakan cari tempat belajar yang sunyi atau tidak berisik supaya kamu dapat berkonsentrasi.
5. Buat kalender semester pribadi.
a. Beri tanda-tanda khusus di kalender dinding atau meja setiap tanggal-tanggal khusus, misal tanggal ujian atau kenaikan kelas.
b. Tulis semua tanggal khusus tersebut plus kegiatannya dalam kalender kecil yang bisa dibawa ke mana saja. Contoh bagus adalah buku agenda harian atau daily planner.
6. Kerjakan sebisa mungkin.
a. Kalau ada perlengkapan belajar yang tidak dimiliki, bisa dicari cara lain yang hasilnya sama supaya tidak jadi penghambat.
b. Usahakan bekerja sebaik mungkin sesuai kemampuan, tidak perlu sempurna 100%, yang penting coba dulu.
7. Konsentrasi dan fokus.
a. Pada setiap kegiatan, usahakan tetap fokus dan konsentrasi pada materi yang sedang diikuti, misal dengan bersikap aktif.
b. Supaya aliran darah tetap berjalan lancar, istirahatlah selama 5 - 10 menit setiap 30 - 40 menit.

KOMUNIKASI INTERPERSONAL ANTARA MAHASISWA DAN DOSEN
Komunikasi interpersonal  adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. De Vito (1995) mengemukakan komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang mengambil tempat antara dua orang yang memiliki hubungan yang tidak bisa dipungkiri. Komunikasi Interpersonal dapat terjadi antara anak dengan ayahnya, seorang pegawai dengan pegawai lainya, dua saudara, seorang dosen dengan mahasiswa, dua kekasih, dua teman dan lain sebagainya. Menurut Rogers (dalam Mulyana, 2001) mendefinisikan komunikasi interpersonal adalah merupakan komunikasi dari mulut ke mulut yang terjadi dalam interaksi tatap muka antara beberapa pribadi. Sedangkan Barnlund (dalam Wiryanto, 2006) komunikasi antar pribadi diartikan sebagai pertemuan antara dua, tiga, atau mungkin empat orang, yang terjadi sangat spontan dan tidak berstruktur. Dari definisi komunikasi interpersonal yang telah dikemukakan sebelum maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara dua orang yang terjadi dalam interaksi tatap muka yang semua orang dapat menangkap reaksi orang lain secaraverbal maupun nonverbal. Jadi komunikasi interpersonal antara mahasiswa dan dosen adalah komunikasi terjadi dalam interaksi tatap muka dalam suatu lingkungan kampus yang terjalin secara langsung maupun tidak langsung.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Dalam berkomunikasi individu dipengaruhi oleh beberapa hal yang pada akhirnya menjadi faktor penentu dalam mencapai komunikasi interpersonal ynag baik. Akan lebih baik lagi bila dilandasi beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal  adalah :
  1. Persepsi interpersonal
  2. Konsep Diri
  3. Atraksi interpersonal
  4. Hubungan interpersonal

KOMUNIKASI INTERPERSONAL YANG EFEKTIF
De Vito  mengemukakan lima ciri komunikasi antar pribadi yang efektif , yaitu :
  1. Keterbukaan
  2. Empati
  3. Dukungan
  4. Perilaku positif
  5. Kesamaan

ASPEK-ASPEK EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MAHASISWA-DOSEN
Komunikasi antara mahasiswa dengan dosen merupakan komunikasi interpersonal yang berbentuk dua arah, karena komunikasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan dosen, memungkinkan masing-masing pihak baik mahasiswa atau dosen saling memberikan respon sebagai umpan balik dari pesan yang disampaikan. Respon umpan balik dapat berupa bahasa verbal maupun non verbal. Pesan yang dikomunikasikan pada saat bimbingan berisi ajaran atau didikan, khususnya yang menyangkut permasalahan yang akan diteliti oleh mahasiswa. Sumber pesan bias dari dosen, mahasiswa, buku dan juga orang lain.
Berdasarkan uraian komunikasi mahasiswa-dosen tersebut di atas dan berdasar pada pengertian efektivitas komunikasi interpersonal yang telah dirumuskan, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi mahasiswa-dosen adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesamaan interpretasi antara mahasiswa dengan dosen pembimbing utama skripsi terhadap pesan verbal dan non verbal yang disampaikan pada saat komunikasi, dan ada umpan balik yang diberikan terhadap pesan tersebut.
De Vito (1995, h. 106-114) menyatakan bahwa aspek-aspek efektivitas komunikasi interpersonal antara lain:
  • Keterbukaan
Keterbukaan adalah adanya kesediaan untuk membuka diri. Keterbukaan seseorang dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya pengungkapan informasi mengenai diri pribadi, kesediaan untuk bereaksi secara jujur atas pesan yang disampaikan orang lain, adanya “kepemilikan” dari perasaan dan pikiran, adanya kebebasan mengungkapkan perasaan dan pikiran, serta adanya tanggung jawab terhadap pengungkapan tersebut.
  • Empati
Berempati adalah merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tanpa kehilangan identitas diri sendiri. Empati memungkinkan seseorang untuk mengerti baik secara emosional maupun intelektual atas apa yang dirasakan orang lain.
  • Dukungan
Dukungan dipahami sebagai lingkungan yang tidak mengevaluasi (descriptivenes). Dukungan dalam komunikasi ditunjukkan oleh kebebasan individu dalam mengungkapkan perasaannya, tidak malu, tidak merasa dirinya menjadi bahan kritikan. Individu dapat berfikir secara terbuka, mau menerima pandangan yang berasal dari orang lain, serta bersedia untuk mengubah diri jika perubahan dipandang perlu.
  • Kepositifan
Sikap positif dalam komunikasi adalah sikap saling menghormati satu sama lain dalam situasi komunikasi secara umum. Sikap positif dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya kejelasan dan kepuasan dalam proses komunikasi.
  • Kesederajatan
Kesederajatan adalah adanya kedudukan yang sama dalam suatu hal atau kondisi (status). Kesederajatan dalam komunikasi interpersonal, ditunjukkan oleh adanya rasa saling menghormati antara pelaku komunikasi.
  • Keyakinan
Komunikasi yang efektif memerlukan adanya keyakinan dalam diri komunikan maupun komunikator. Keyakinan dalam komunikasi ditunjukkan oleh adanya perasaan senang satu sama lain, dan tidak ada rasa segan satu sama lain.
  • Kesiapan
Kesiapan dalam komunikasi dibutuhkan agar tujuan komunikasi tercapai. Kesiapan dalam komunikasi dapat ditunjukkan oleh adanya hubungan antara pesan-pesan yang akan disampaikan oleh komunikator dengan pesan yang diharapkan diterima oleh komunikan dalam komunikasi, adanya kesenangan dan ketertarikan antara komunikan dan komunikator, adanya kesenangan dan ketertarikan komunikan dan komunikator pada pesan yang dikomunikasikan.
  • Manajemen Interaksi
Komunikasi interpersonal yang efektif dapat dilihat dari manajemen interaksi yang ada dalam situasi komunikasi. Manajemen interaksi dalam komunikasi ditunjukkan oleh tidak adanya pelaku komunikasi yang merasa diabaikan. Kemampuan dalam manajemen interaksi dapat dilihat dari tingkah laku komunikasi yang berupa gerakan mata, ekspresi suara, mimik muka dan bahasa tubuh.
  • Sikap ekspresif
Dalam komunikasi interpersonal yang efektif memerlukan sikap ekspresif. Sikap ekspresif dapat dilihat dari adanya kesungguhan dalam berbicara atau mendengarkan, yang dapat dilihat dari bahasa verbal maupun nonverbal.
  • Orientasi pada orang lain
Orientasi pada orang lain adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan menganggap lawan bicara sebagai pusat perhatian. Adanya orientasi pada orang lain saat berkomunikasi dapat ditunjukkan melalui bahasa verbal maupun nonverbal. Bahasa nonverbal melalui kontak mata, senyuman, anggukan, dan mimik wajah. Adapun bahasa verbal dapat ditunjukkan melalui pertanyaan atau pernyataan berkenaan dengan pernyataan lawan bicara yang
terlibat dalam komunikasi interpersonal.

HUBUNGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MAHASISWA-DOSEN DENGAN PERMASALAHAN YANG TERJADI DI DUNIA PERKULIAHAN
Demi lancarnya kegiatan mahasiswa dalam dunia perkuliahan, seringkali mahasiswa terbantu dengan adanya seorang dosen wali. Peran dosen wali disini sangat membantu mahasiswa dengan setiap permasalahan yan ada di kampus, entah itu tentang mata perkuliahan, atau sering juga menjadi orang yang dapat diajak curhat tentang masalah lain apabila hubungan keakraban mahasiswa-dosen terjadi. Hal itu yang menyebabkan adanya keseringan komunikasi antar keduanya.
Komunikasi merupakan salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan sosial. Melalui komunikasi seseorang dapat memenuhi kebutuhan akan rasa ingin tahu, kebutuhan aktualisasi diri, dan kebutuhan untuk meyampaikan ide, pemikiran, pengetahuan dan informasi secara timbal balik kepada orang lain.
Kebutuhan-kebutuhan sosial tersebut didapat pada saat ada umpan balik dalam komunikasi. Komunikasi antara mahasiswa dengan dosen wali, merupakan salah satu bentuk komunikasi yang mempunyai tujuan untuk memenuhi rasa ingin tahu, kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan untuk menyampaikan ide atau gagasan, pengetahuan dan informasi secara timbal balik. Mahasiswa dapat menyatakan ide, pengetahuan dan informasi yang dimiliki seputar penelitian yang akan dilaksanakan atau yang lainnya. Pada saat ada permasalahan yang dialami mahasiswa, dosen wali cenderung menjadi tujuan utama untuk mencurahkan permasalahan mahasiswa tersebut
Komunikasi mahasiswa-dosen wali dapat berlangsung secara dialogis. Salah satu keuntungan komunikasi dialogis adalah adanya kesempatan bagi mahasiswa untuk bersikap responsif dalam mengetengahkan pendapat atau pertanyaan pada dosen wali tersebut. Adanya kesempatan dalam memberi umpan balik secara langsung dalam komunikasi dialogis dapat mengurangi adanya kesalahan dalam interpretasi pesan, dan apabila terjadi kesalahan dalam interpretasi pesan dapat segera diketahui atau dibenahi saat itu juga, sehingga tercipta kondisi kesamaan dalam interpretasi antara mahasiswa-dosen. Kondisi adanya kesamaan dalam interpretasi antara mahasiswa-dosen menunjukkan adanya komunikasi yang efektif.
Komunikasi dapat disebut efektif, bila komunikan menginterpretasikan pesan yang diterima mempunyai makna yang sama dengan maksud pesan yang disampaikan oleh komunikator. Komunikasi interpersonal yang efektif dapat menunjukkan ada pemahaman yang sama atas pesan yang disampaikan pada saat komunikasi berlangsung antara komunikator dan komunikan. Perlu diketahui bahwa untuk melihat efektif tidaknya komunikasi interpersonal yang berlangsung, dapat dilihat dari umpan balik antara pemberi dan penerima pesan. Umpan balik dapat berupa pernyataan, sikap dan tindakan.
Komunikasi interpersonal yang efektif menyebabkan dua individu yang tergabung dalam proses komunikasi merasa senang, sehingga mendorong tumbuhnya sikap saling terbuka, dan kesenangan. Komunikasi interpersonal yang berjalan tidak efektif, maka menyebabkan pelaku komunikasi mengembangkan sikap ketidaksenangan dan menutup diri. Sikap menutup diri dapat memicu individu untuk menarik dari dari lingkungan pergaulan (withdrawl). Sikap ketidaksenangan dapat menyebabkan ketegangan pada individu. Adanya ketegangan, dan sikap menarik diri dari lingkungan pergaulan mengindikasikan adanya gejala stres pada diri individu. Sarafino (1994, h. 74) menyatakan bahwa stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan, berasal dari situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Salah satu faktor yang mempengaruhi stres adalah hubungan interpersonal yang negatif (Sarafino, 1994, hal.89). Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Holt & Lunstad (2003) pada 102 mahasiswa di Brigham Young University menyatakan bahwa hubungan interpersonal yang negatif berpengaruh pada kenaikan tekanan darah . Kenaikan tekanan darah merupakan salah satu gejala fisik dari stres.
Hubungan interpersonal yang negatif dapat disebabkan oleh kegagalan dalam proses komunikasi. Kegagalan dalam komunikasi menyebabkan terjadinya perselisihan pendapat yang terjadi akibat adanya kesalahan dalam menginterpretasi arti pesan. Adanya kesalahan dalam interpretasi pesan menunjukkan bahwa komunikasi yang ada tidak berjalan efektif, sehingga menyebabkan adanya ketegangan. Ketegangan yang berlangsung secara terus menerus dapat berkembang menjadi stres. Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian Ross et al. (1999) yang menyatakan bahwa perselisihan pendapat antara mahasiswa dengan dosen (dosen wali maupun dosen pada umumnya) merupakan salah satu sumber stres pada mahasiswa.

SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal antara mahasiswa dan dosen dengan prestasi akademik. Prestasi akademik yaitu hasil dari kegiatan belajar untuk mengetahui sejauh mana seseorang menguasai bahan pelajaran yang diajarkan serta mengungkapkan keberhasilan yang dicapai oleh orang tersebut. Mendapatkan hasil belajar yang optimal banyak dipengaruhi oleh berbagai komponen belajar mengajar, diantaranya adalah hubungan antara dosen dan mahasiswa. Hubungan dosen dengan mahasiswa didalam proses belajar mengajar merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga mahasiswa ingin belajar dan dosen nyaman dalam mengajar. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar akan menentukan tinggi rendahnya prestasi akademik seorang siswa. Faktor yang mempengaruhi prestasi akademik siswa adalah faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu aspek fisiologi (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologi (yang bersifat rohaniah). Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan dan pertemanan. Berbicara masalah proses belajar mengajar di perguruan tinggi, hubungan antara dosen dengan mahasiswa dalam berkomunikasi sangat perlu. Apabila hubungan antara dosen dengan mahasiswa tidak harmonis, dapat menciptakan komunikasi yang tidak baik. Komunikasi turut menentukan untuk membuat manusia menjadi tahu dan mendapatkan pengetahuan sebagai sumber ilmu. Pengetahuan pada mahasiswa dapat dicerminkan oleh prestasi akademik dengan nilai indeks prestasi yang didapat.
Menciptakan komunikasi yang baik diperlukan kemampuan komunikasi seperti menulis, membaca, berbicara, mendengarkan, dan berpikir (kemampuan bernalar). Hal terpenting yang harus diperhatikan untuk mengukur keberhasilan proses komunikasi, pada mahasiswa berupa prestasi akademik yang baik.
Berdasarkan hasil dari makalah diatas menyatakan bahwa, mahasiswa harus dapat mempertahankan komunikasi yang efektif dengan dosen, untuk kelancaran mahasiswa tersebut dalam menjalankan aktifitas kuliah. Cara yang dapat ditempuh oleh mahasiswa agar tercapai efektivitas komunikasi dengan dosen pembimbing adalah menjalin kedekatan dengan dosen, membangun persepsi yang positif pada dosen, menumbuhkan keterbukaan dan kejujuran, serta membangun kepercayaan pada dosen pembimbing. Dosen diharapkan dapat mempertahankan keefektivitasan komunikasi yang telah terjalin dengan mahasiswa bimbingannya.

No comments:

Post a Comment