Saturday, March 19, 2011

KOMUNIKASI KELOMPOK

            Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konferensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Kedua definisi komunikasi kelompok di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok.
            Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Deddy Mulyana, 2005). Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, kelompok pemecahan masalah, atau suatu komite yang tengah merapatkan sesuatu untuk mengambil suatu keputusan.    Dalam komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi. Karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok. Kesamaan dari komunikasi kelompok dan antarpribadi yaitu adanya komunikasi antar individu secara tatap muka, adanya komunikasi diadik (terkadang) yaitu komunikasi antar dua orang dekat, seringnya mengiri dan menerima pesan secara stimultan dan spontan.[1]

Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya.
            Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
·         Kelompok primer dan sekunder.
            Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
            Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1.      Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
2.      Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal. Maksudnya adalah, sifatnya yang tidak dapat dipindahkan. Hubungan terikat pada dua individu tertentu tidak dapat digantikan oleh individu lain yang disini dikategorikan kelompok sekunder.
3.      Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder adalah sebaliknya. Disini komunikasi antara kelompok primer dilakukan hanya untuk menjalin hubungan baik. Isi ataupun maksud pesan yang disampaikan baukan menjadi tujuan utama.
4.      Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.
5.      Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.
·         Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
            Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
            Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Sebagai contoh agama Islam sebagai kelompok rujukan, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status sekarang (fungsi komparatif). Islam juga memberikan norma-norma dan sejumlah sikap yang harus dimiliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku, sekaligus menunjukkan apa yang harus dicapai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan cara pandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang ditemui (fungsi perspektif).
·         Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
            John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
            Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

Pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi
·         Konformitas.
            Konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok-yang real atau dibayangkan. Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada kecenderungan para anggota untuk mengatakan dan melakukan hal yang sama. Jadi, kalau anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok, aturlah rekan-rekan anda untuk menyebar dalam kelompok. Ketika anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekan-rekan anda secara persetujuan mereka. Tumbuhkan seakan-akan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota berikutnya untuk setuju juga.
·         Fasilitasi sosial.
            Fasilitasi (dari kata Prancis facile, artinya mudah) menunjukkan kelancaran atau peningkatan kualitas kerja karena ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga menjadi lebih mudah. Robert Zajonz (1965) menjelaskan bahwa kehadiran orang lain-dianggap-menimbulkan efek pembangkit energi pada perilaku individu. Efek ini terjadi pada berbagai situasi sosial, bukan hanya didepan orang yang menggairahkan kita. Energi yang meningkat akan mempertingi kemungkinan dikeluarkannya respon yang dominan.     Respon dominan adalah perilaku yang kita kuasai. Bila respon yang dominan itu adalah yang benar, terjadi peningkatan prestasi. Bila respon dominan itu adalah yang salah, terjadi penurunan prestasi. Untuk pekerjaan yang mudah, respon yang dominan adalah respon yang banar; karena itu, peneliti-peneliti melihat melihat kelompok mempertinggi kualitas kerja individu.
·         Polarisasi.
            Polarisasi adalah kecenderungan ke arah posisi yang ekstrem. Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya, bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah diskusi mereka akan menentang lebih keras.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan kelompok
            Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan: a. melaksanakan tugas kelompok, dan b. memelihara moral anggota-anggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok-disebut prestasi (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfacation). Jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
            Untuk itu faktor-faktor keefektifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok, yaitu:
  1. ukuran kelompok.
Hubungan antara ukuran kelompok dengan prestasi kerja kelompok (performance) bergantung pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok.
  1. jaringan komunikasi.
            Perbedaan dalam pengaturan tata ruang dalam pertemuan, dapat menimbulkan perbedaan pola komunikasi. Dalam buku Psikologi Komunikasi karya Jalaluddin Rakhmat, menerangkan lima macam jaringan komunikasi: roda, rantai, Y, lingkaran dan bintang.
  1. kohesi kelompok.
Kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok. Selain itu, makin kohesif kelompok yang diikuti, makin besar tingkat kepuasan anggota serta makin mudah para anggota tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang devian.
  1. kepemimpinan.
            Kepemimpinan adalah faktor yang menentukan keefektifan komunikasi kelompok. Pemimpin mempunyai tanggung jawab yang hamper menyeluruh dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi para anggotanya. Namun dominasi oleh pemimpin akan menyebabkan para anggota menjadi pasif dan sangat bergantung. Anggota kelompok mempunyai keinginan berdiri sendiri tanpa selalu bergantung pada otoritas, mereka ingin mengemukakan pendapat, karena merekapun juga seorang manusia.[2] Ada tiga gaya kepemimpinan menurut White dan Lippit (1960): otoriter, demokratis, dan laissez faire. Kepemimpinan demokratis terbukti paling efisien, dan menghasilkan kuantitas kerja yang lebih tinggi dibanding otoriter yang sering menimbulkan permusuhan dan agresi. Pemimpin laissez faire hanya ungul dalam menyampaikan informasi pada anggotanya.

            Selain itu faktor-faktor yang menentukan keefektifan kelompok juga dapat dilihat dari karakteristik anggota kelompok, yaitu:
  1. Kebutuhan Interpersonal
            Yaitu menerangkan tentang maksud dan tujuan anggota masuk kedalam kelompok.
  1. Tindak Komunikasi
            Dalam kelompok setiap anggota pasti berusaha menyampaikan atau menerima informasi. Komunikasi yang terjadi dalam kelompok entah itu berupa pertanyaan, pernyataan, pendapat atau isyarat. Apakah bisa dikatakan berhasil sebuah kelompok apabila para anggotanya tidak pernah berkomunikasi satu sama lain?. Keberhasilan suatu kelompok tergantung pada keberhasilan komunikasi yang dilakukan anggota kelompok tersebut.[3]
  1. Peranan
            Peranan yang dimainkan para anggota dalam sebuah kelompok dapat membantu pencapaian tugas kelompok tersebut. Beal, Bohlen, dan Raudabaugh telah menyusun daftar peranan dalam keefektifan kelompok. Pertama disebut Peranan Tugas Kelompok, yang tujuannya untuk memecahkan masalah atau melahirkan gagasan-gagasan baru. Kedua yaitu Pemelihara Kelompok, yang bertujuan memelihara hubungan emosional diantara anggota kelompok. Dan yang terakhir adalah peranan individual yaitu usaha anggota kelompok itu sendiri untuk memuaskan kebutuhannya yang tidak relevan dengan tugas kelompok.

Bentuk-bentuk komunikasi kelompok
            Dalam pembahasan bentuk komunikasi kelompok dapat disebutkan dalam dua hal, yaitu komunikasi kelompok deskriptif dan preskriptif.
  1. Komunikasi Kelompok Deskriptif
            Terdapat tiga kategori besar dalam bentuk komunikasi ini. Pertama, kelompok tugas yang diilhami dari model Aubrey Fisher. Menurut Fisher kelompok melewati empat tahap: Tahap orientasi, yaitu pengenalan antar anggota, saling memahami/ menangkap perasaan satu sama lain. Tahap konflik, adanya peningkatan perbedaan antar anggota. Saling mempertahankan posisi. Tahap pemunculan, dalam tahap ini ada sebuah anti-klimaks setelah adanya konflik. Dan yang terakhir adalah tahap peneguhan, yaitu mulai terjadinya peneguhan konsensus kelompok. Pernyataan umumnya bersifat positif dan melepaskan ketegangan.
            Kedua, yaitu kelompok pertemuan yang diambil dari model Bennis dan Shepherd. Kelompok pertemuan bukan saja membantu pertumbuhan diri, tetapi juga mempercepat penghancuran diri, akibat sebuah kepemimpinan yang merusak. Ada dua tahap: Kebergantungan pada otoritas, yaitu terbentuknya koalisi dalam satu kelompok akibat pemimpin yang dinilai kurang siap/ memberikan pengarahan yang cukup. Akhirnya, karena kebergantungan pada pemimpin tersebut, pihak koalisi tersebut mulai memberontak dan akhirnya muncul pemahaman dalam dirinya bahwa mereka lebih berpengalaman serta membentuk struktur mereka sendiri.            Tahap selanjutnya, kebergantungan satu sama lain. Masih pada cerita diatas. Setelah pihak koalisi menyadari bahwa mereka mandiri, akhirnya kelompok keseluruhan menjadi goyah akibat ulah koalisi tersebut. Akhirnya kelompok terpecah menjadi dua. Dan masing-masing bergantung satu sama lain pada kelompok pecahan mereka sendiri-sendiri. Disinilah periode kehidupan kelompok pertemuan mengalami pertumbuhan diri, namun disini juga emosi dikuras habis, dan dalam beberapa hal menimbulkan kerusakan emosional pada individu. Perlu diketahui, emosi mempunyai pengaruh besar terhadap tingkah laku dan kepribadian seseorang.[4]
            Ketiga, yaitu kelompok penyadar yang dirumuskan oleh James Chesebro, John Cragan, dan Patricia McCullogh pada tahun 1970 yang hasilnya sebagai berikut: Tahap pertama, yaitu kesadaran diri akan identitas baru. Maksudnya para anggota kelompok harus terdiri dari orang-orang yang mempunyai karakteristik yang menjadi dasar kelompok. Kemudian tahap kedua adalah identitas kelompok melalui polarisasi. Disini para anggota kelompok mulai membeda-bedakan kelompoknya dengan kelompok lain atau dengan kata lain, mulai membicarakan tabiat kelompok lain sebagai “musuh”nya. Selanjutnya pada tahap ketiga, adanya penegakan nilai-nilai baru bagi kelompok. Pada tahap ini kelompok mulai teguh dengan nilai-nilai kelompok mereka dengan kelompok yang bertentangan.
            Yang terakhir, tahap keempat yaitu menghubungkan diri dengan kelompok revolusioner. Maksudnya kelompok ini biasanya merumuskan suatu tindakan nyata dan terkadang tidak terbayangkan oleh kelompok lain, untuk mempertahankan keyakinan kelompok mereka. Hal itu biasanya terilhami dari kelompok lain yang sepaham dengan keyakinan kelompok mereka.

  1. Komunikasi kelompok preskriptif
(Format Diskusi)
            Menurut formatnya komunikasi kelompok ini dapat diklasifikasikan pada dua kelompok besar, privat dan publik. Craghan dan Wright (1980) menjelaskan tentang format diskusi, yang terdiri dari:
            Diskusi meja bundar: yang biasanya digunakan untuk diskusi yang sifatnya terbatas dan informal. Dalam format seperti ini memungkinkan individu berbicara kapan saja tanpa ada agenda yang tetap.
            Simposium: dalam symposium biasanya menyajikan informasi untuk dijadikan sumber rujukan khalayak dalam mengambil keputusan. Pembicaranya juga dihadirkan dalam dua pihak yang berbeda sudut pandang(pro dan kontra)
            Diskusi Panel: adalah format khusus yang anggota-anggotanya berinteraksi, baik berhadap-hadapan, maupun melalui seorang mediator. Diskusi panel biasanya digunakan untuk mengidentifikasi masalah yang harus ditelaah, memberi pengertian pada khalayak tentang bagian-bagian permasalahan, membangkitkan minat pada khalayak pada masalah tertentu, dsb.
            Forum: dalam format seperti ini pertanyaan atau tanggapan dari khalayak menjadi pokok utama atau yang dinanti.
            Kolokium: adalah diskusi yang memberikan kesempatan kepada wakil-wakil khalayak untuk mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkan kepada seorang atau beberapa ahli. Sifatnya formal dan dpimpin oleh seorang moderator.
            Yang terakhir adalah prosedur parlementer:  adalah format diskusi yang jumlah pesertanya besar pada periode waktu tertentu ketika sejumlah keputusan harus dibuat. Ada tata tertib diskusi yang harus ditaati oleh pesertanya.

            (Sistem Agenda Pemecahan Masalah)
            Dalam pembahasan komunikasi kelompok preskriptif ada sebuah urutan pemecahan masalah yang diilhami oleh proses berpikir reflektif dari John Dewey. Ada tiga pola pemecahan masalah yang telah dimodifikasi oleh para ahli: urutan pemecahan masalah kreatif, urutan berpikir reflektif, dan urutan solusi ideal. Maksud dari pembahasan ini adalah mencoba menelusuri cara pemecahan masalah yang sistematika didalamnya berbeda, dari yang detil sampai simple atau sederhana.
            Urutan pemecahan masalah kreatif: sistem ini termasuk sistem pemecahan masalah yang lengkap dan sangat tepat untuk melahirkan gagasan baru. Urutannya mengutip dari Brilhart (1979: 144-145). Pertama, memahami permasalahan secara rinci. Dari topik permasalahan, perencanaan hasil akhir, dampak, mengumpulkan referensi, penyebab masalah, dan membicarakan tentang hambatan. Kedua, mengumpulkan saran  untuk mencari langkah awal dalam penyelesaian masalah. Ketiga, menentukan standar relatif yang digunakan serta memikirkan kelebihan dan kekurangan standar tersebut. Keempat, keputusan bagaimana penyelesaiannya. Kelima, adanya tindak lanjut dan pemeriksaan.
            Urutan berpikir reflektif: dalam urutan pemecahan masalah ini dianjurkan adanya kritik sebelum menentukan pemecahan masalah. Urutannya adalah, memahami masalah, mengumpulkan solusi dan alternatif untuk kriteria pemecahan, menentukan salah satu solusi, kemudian dilakukan tindakan.
            Pola solusi ideal: pola ini dilakukan untuk mengatasi masalah yang mempengaruhi berbagai macam kelompok yang mempunyai kepentingan yang berlainan atau dengan kata lain, keputusannya mempengaruhi orang banyak. Urutan pertama sama dengan sebelumnya yaitu memahami permasalahan. Kedua, menentukan pemecahan masalah ideal ditinjau dari berbagai kepentingan kelompok atau individu. Ketiga memikirkan hasil dari solusi yang akan dilakukan. Dan yang terakhir adalah, bagaimana menyelesaikan solusi tersebut.

KESIMPULAN

            Makalah ini menerangkan tentang apa saja yang ada dalam sistem komunikasi kelompok, yang sebagian besar menerangkan tentang Berbagai macam atau bentuk kelompok, beserta perilaku dan pengaruh komunikasinya.
            Sebuah kelompok menentukan cara anda berbicara, berpakaian, bekerja serta menentukankeadaan emosi anda, suka dan duka, sesuai dengan latar belakang kelompok tersebut. Dengan ini diharapkan akan muncul gagasan-gagasan baru yang kreatif, serta dapat meningkatkan kesadaran anggota, bahkan khalayak luas tentang suatu permasalahan.
            Agar bisa dikatakan kelompok, diperlukan adanya kesadaran para anggotanya akan ikatan yang sama yang mempersatukan mereka. Menurut para ahli kelompok diklasifikasikan menjadi empat dikotomi: kelompok yang sudah terikat (mengenal jauh) dan tidak (orang luar atau biasanya bersifat jamak), kelompok kita dan kelompok lain, keanggotaan dan rujukan, deskriptif dan preskriptif.
            Dalam pengaruh sosial (sosial influence), dapat merubah seorang individu menjadi lain dari biasanya. Semua dipengaruhi oleh kelompok. Dan macam pengaruh tersebut yaitu: perubahan akibat tekanan (conformity), adanya kehadiran seseorang atau public tertentu (fasilitasi sosial), adanya kecenderungan ekstrim yang dipahami sebalumnya.
            Untuk menciptakan suasana efektif dalam sebuah kelompok, ada beberapa faktor, situasional dan personal. Faktor situasional membahas tentang karakteristik kelompok, yang meliputi: ukuran dalam kelompok, jaringan komunikasi dalam kelompok, peningkatan rasa penyatuan dalam kelompok (group cohesiveness), dan gaya kepemimpinan. Faktor personal membahas tentang karakteristik anggota kelompok. Mulai dari alasan bergabung dengan kelompok atau kebutuhan individu, cara atau tindak berkomunikasi,sampai peranan masing-masing anggota.
            Bentuk komunikasi juga dibahas dalam makalah ini, yang meliputi komunikasi kelompok deskriptif dan preskriptif. Terdapat tiga kategori besar dalam bentuk komunikasi deskriptif. Pertama, kelompok tugas yang melewati empat tahap: tahap pengenalan antar anggota, tahap peningkatan perbedaan antar anggota, tahap anti-klimaks setelah adanya konflik, dan tahap konsensus kelompok. Kedua, yaitu kelompok pertemuan yang dapat membantu pertumbuhan diri, dan juga mempercepat penghancuran diri, akibat sebuah kepemimpinan yang merusak. Ada dua tahap: Kebergantungan pada otoritas, dan kebergantungan satu sama lain. Ketiga, yaitu kelompok penyadar yang melewati beberapa tahap. Pertama, yaitu kesadaran akan karakteristik dalam diri yang selaras dengan dasar kelompok. Tahap kedua dimulainya mencari kelompok lain yang berbeda pandangan dengan kelompoknya. Pada tahap ketiga, kelompok mulai teguh dengan nilai-nilai kelompok mereka dengan kelompok yang bertentangan. Yang terakhir, tahap keempat yaitu merumuskan suatu tindakan nyata dan terkadang tidak terbayangkan oleh kelompok lain, untuk mempertahankan keyakinan kelompok mereka yang diilhami dari kelompok lain yang sepaham dengan keyakinan kelompok mereka. Selanjutnya kelompok preskriptif membicarakan tantang format komunikasi kelompok: meja bundar, diskusi panel, symposium, forum, kolokium dan parlementer. Pembahasan terakhir adalah Agenda pemecahan masalah, yaitu urutan pemikiran dalam pemecahan masalah.


[1]  Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda. 2005, hlm. 73.
[2] Artikel mata kuliah Azaz Manajemen dan Organisasi. hlm.26
[3] Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Rosda. 2005, hlm. 73.
[4]  Mahmud, M.Dimyati. Psikologi: Suatu Pengantar. Yogyakarta: BPFE.1990.  hlm 163.

No comments:

Post a Comment